Perlukah Pemeriksaan Darah Untuk Ibu Hamil?

tekanan darah ibu hamilPemeriksaan darah untuk ibu hamil memang diperlukan untuk mengetahui kesehatan Ibu hamil. Ibu hamil sehat tentu akan lebih memungkinkan melahirkan bayi yang sehat pula. Pemeriksaan memang diperlukan bila memang ada indikasi untuk itu. Memang lumrah kalau seorang Ibu muda yang baru pertama kali hamil dag dig dug menjelang kelahiran pertama.

Keinginan untuk memperoleh keturunan yang sehat tentu saja dambaan setiap keluarga. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah. Pemeriksaan fisik meliputi: bobot badan, tekanan darah, tinggi perut (fundus), denyut jantung janin, udema atau bengkak pada kaki, ukuran dan letak janin. Peningkatan bobot badan ibu hamil yang normal adalah sekitar 0,5 kg per minggu atau 6,5 sampai 16 kg selama kehamilan.

Tekanan darah ibu hamil perlu diketahui. Kesehatan Ibu hamil tidak boleh mempunyai tekanan darah sistolik melebihi dari 140 mmHg. Bila hal ini terjadi maka ada kemungkinan ia menderita hipertensi dalam kehamilan yang disebut preeklampsia atau eklampsia. Ketinggian fundus akan meningkat sesuai dengan usia kehamilan.

Hb adalah pigmen pembawa zat asam (oksigen) yang ada di dalam butir darah merah. Bila seseorang kekurangan Hb tentu saja sel-sel dalam tubuhnya akan kekurangan oksigen. Begitu juga pada ibu hamil, bila ia kekurangan oksigen tidak saja kesehatannya akan terganggu, tetapi juga kesehatan janinnya akan sangat terganggu. Apalagi keadaan yang prima sangat diperlukan saat melahirkan kelak.

Pemeriksaan HB ibu hamil perlu dilakukan bila ada gejala yang berhubungan dengan kekurangan Hb, atau ada kemungkinan penyakit yang dapat menyebabkan anemia. Sebetulnya dengan melihat kelopak mata saja, kita akan dapat melihat apakah seseorang mengalami kekurangan darah (anemia) atau tidak. Pemeriksaan cara ini tidak memberikan data yang tepat. Namun, bagi seorang petugas kesehatan atau pakar yang sudah berpengalaman banyak, mereka dapat memperkirakan apakah penderita menderita suatu penyakit atau kelainan perlu pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.

Di samping itu mereka dapat memperkirakan apakah penderita perlu atau tidak pemberian suplemen besi atau zat lain yang diperlukan dalam pembentukan butir darah merah. Untuk lebih tepatnya, memang diperlukan pemeriksaan Hb demi kesehatan ibu hamil yang tetap terjaga..

Iklan

Efek Penggunaan obat dan Suplemen Untuk Ibu hamil

obat untuk ibu hamilBanyak jenis obat yang kurang atau tidak aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Hanya beberapa jenis obat saja boleh diminum selama kehamilan karena terbukti aman bagi ibu hamil maupun janin. Sangat dimaklumi bila tidak semua ibu hamil mengetahui mana obat yang aman dan mana yang tidak. Karena itu setiap jenis obat apapun termasuk jamu, vitamin maupun food suplemenĀ  yang akan dikonsumsi ibu hamil, sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan apoteker atau dokter anda.

Obat untuk ibu hamil dapat menyebabkan efek yang tidak dikehendaki pada janin selama masa kehamilan. Selama kehamilan dan menyusui, seorang ibu dapat mengalami berbagai keluhan atau gangguan kesehatan yang membutuhkan obat. Banyak ibu hamil menggunakan obat dan suplemen pada periode organogenesis sedang berlangsung sehingga risiko terjadi cacat janin lebih besar. Di sisi lain, banyak ibu yang sedang menyusui menggunakan obat-obatan yang dapat memberikan efek yang tidak dikehendaki pada bayi yang disusui.

Karena banyak obat yang dapat melintasi plasenta, maka penggunaan obat pada wanita hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta obat mengalami proses biotransformasi, mungkin sebagai upaya perlindungan dan dapat terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang bersifat teratogenik/dismorfogenik. Obatobat teratogenik atau obat-obat yang dapat menyebabkan terbentuknya senyawa teratogenik dapat merusak janin dalam pertumbuhan.

Beberapa obat dapat memberi risiko bagi kesehatan ibu hamil, dan dapat memberefek pada janin juga. Selama trimester pertama, obat dapat menyebabkan cacat lahir (teratogenesis), dan risiko terbesar adalah kehamilan 3-8 minggu. Selama trimester kedua dan ketiga, obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara fungsional pada janin atau dapat meracuni plasenta.

Obat yang diterima ibu hamil, baik yang digunakan melalui mulut, disuntikkan atau penggunaan lain akan masuk ke dalam aliran darah. Obat dapat masuk ke dalam tubuh janin melalui plasenta. Obat tersebut tidak saja tidak diperlukan oleh bayi tetapi juga dalam beberapa keadaan dapat membahayakan janin, di samping kemungkinan adanya efek yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Hampir tidak ada obat yang secara mutlak dianggap aman untuk digunakan pada ibu hamil.

Penggunaan obat, jamu, vitamin dan makanan suplemen sekalipun, perlu dipertimbangkan antara manfaat dan resiko. Walaupun umumnya tingkat keamanan obat pada trimester ketiga lebih tinggi dibandingkan fase sebelumnya, namun penggunaan obat pada ibu hamil tetap harus melalui nasehat pakar. Beberapa prinsip di atas dapat diterapkan. Karena banyaknya jenis obat, tidak mungkin untuk menjelaskan satu per satu mana obat yang boleh digunakan atau tidak bagi kesehatan ibu hamil.